Kuliah Perdana Mahasiswa Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq UMS Tekankan Ilmu Adab dan Kedisiplinan

SURAKARTA — Kuliah Perdana Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq tahun ajaran 2026/2027 sebagai sesi tahap pengenalan menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan pendidikan, aturan akademik, dunia mahasiswa, hingga berbagai program pengembangan diri. Kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan sistem pembelajaran, tetapi juga menanamkan nilai keislaman, kedisiplinan, akhlak, serta tanggung jawab kepada para mahasiswa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan tilawah Al-Qur’an. Selanjutnya, peserta mendapatkan penjelasan mengenai peraturan akademik dan sosialisasi kegiatan, sebelum memasuki agenda sambutan mudir dan kuliah perdana. Dalam sambutan pembukaan, mahasiswa baru disambut untuk memulai perjalanan di lingkungan baru yang diharapkan menjadi ruang memperoleh ilmu, pengalaman, persaudaraan, dan keberkahan.

Salah satu agenda utama gelaran acara ini adalah sosialisasi bidang akademik. Para mahasiswa diperkenalkan dengan sistem perkuliahan, ketentuan kehadiran, ujian, hingga mekanisme penilaian. Perkuliahan reguler berlangsung pada hari efektif selama satu semester, sementara mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan pembelajaran secara tertib dan tepat waktu.

Kehadiran menjadi salah satu unsur penting dalam proses akademik. Mahasiswa diwajibkan hadir sekurang-kurangnya 75 persen dari total hari efektif perkuliahan setiap semester. Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan di Ma’had tidak hanya menilai hasil ujian, tetapi juga menekankan konsistensi mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

Sistem penilaian juga dijelaskan secara terperinci. Penilaian harian memiliki bobot 30 persen, Ujian Tengah Semester (UTS) sebesar 30 persen, sedangkan Ujian Akhir Semester (UAS) sebesar 40 persen. Penilaian harian mencakup kehadiran, keaktifan mahasiswa dalam kelas, serta penyelesaian tugas yang diberikan oleh pengajar.

Selain aspek akademik, pengarahan ini  juga memberikan perhatian besar terhadap pembentukan karakter. Mahasiswa diarahkan untuk menjaga adab dan akhlak Islami dalam kehidupan sehari-hari. Status sebagai mahasiswa Ma’had dipandang bukan sekadar identitas akademik, tetapi juga membawa tanggung jawab untuk menjaga perilaku serta nama baik lembaga.

Bidang kemahasiswaan turut menjelaskan hak dan fasilitas yang dapat diperoleh mahasiswa. Mahasiswa mendapatkan pembinaan dan pendampingan, pelayanan kemahasiswaan, informasi mengenai berbagai program, serta kesempatan untuk mengembangkan diri melalui kegiatan dan organisasi.

Organisasi atau unit kegiatan mahasiwa menjadi salah satu wadah pengembangan kepemimpinan. Ma’had memfasilitasi mahasiswa melalui organisasi seperti BEM untuk belajar mengelola kegiatan, bekerja sama, dan mengembangkan potensi. Unit kegiatan tersebut diwajibkan memiliki struktur kepengurusan serta program kerja dan harus berkoordinasi dengan bagian kemahasiswaan dalam pelaksanaan kegiatannya.

Lingkungan pendidikan di Ma’had juga diarahkan menjadi biah Islamiyah atau lingkungan yang mendukung pembiasaan nilai-nilai Islam. Salah satu program yang ditekankan adalah penggunaan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Arab tidak hanya dipelajari di dalam kelas, tetapi juga dipraktikkan ketika mahasiswa berada di lingkungan Ma’had. Dengan demikian, pembelajaran diharapkan tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi berkembang menjadi kemampuan berkomunikasi.

Pada sesi kuliah perdana, mahasiswa baru mendapatkan motivasi agar tidak merasa rendah diri apabila Ma’had bukan merupakan pilihan pertama dalam perjalanan pendidikan mereka. Para mahasiswa justru diajak melihat kesempatan belajar ilmu agama dan bahasa Arab sebagai bagian penting dari perjalanan menuntut ilmu. Pesan tersebut sekaligus menjadi dorongan agar mahasiswa menjalani pendidikan dengan kesungguhan dan sikap optimistis.

Dalam kesempatan tersebut, ditekankan pula pentingnya memperbarui niat dan mengikhlaskannya karena Allah. Kesungguhan dalam belajar harus berjalan beriringan dengan akhlak yang mulia. Mahasiswa diingatkan agar kesempatan menuntut ilmu yang telah diperoleh tidak disia-siakan, melainkan dimanfaatkan untuk membentuk pribadi yang berilmu dan berkarakter.

Sementara itu, bidang dakwah memperkenalkan sejumlah program kerja untuk tahun ajaran 2026/2027. Program tersebut antara lain kajian kitab, khutbah Jumat berbahasa Arab, pelatihan khutbah Jumat bagi mahasiswa putra, serta kajian yang berkaitan dengan Ramadan. Program-program tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan kemampuan keagamaan dan dakwah para mahasiswa.

Secara keseluruhan, Kuliah Perdana Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq tahun ajaran 2026/2027 menjadi langkah awal untuk membangun kehidupan mahasiswa yang tidak hanya terpaku pada orientasi prestasi akademik saja. Ilmu, adab, kedisiplinan, bahasa Arab, akhlak, kepemimpinan, dan aktivitas dakwah ditempatkan sebagai bagian yang saling melengkapi dalam proses pendidikan. Melalui kegiatan tersebut, para mahasiswa diharapkan mampu menjalani masa pendidikan dengan niat yang ikhlas, kesungguhan belajar, kepatuhan terhadap aturan, serta komitmen untuk menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak.