Menuntut Ilmu adalah Ibadah Agung dan Jalan Menuju Surga

Menuntut ilmu merupakan jalan menuju surga. Pesan itulah yang disampaikan Mudir Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. dalam pengantar kajian perdana pembahasan kitab Riyadus Shalihin karya Imam An-Nawawi di Masjid Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dalam kajian tersebut, pemateri juga mendudukkan keutamaan-keutamaan yang dapat diperoleh dari seseorang yang mempunyai ilmu.

Selanjutnya, Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. mencontohkan kisah Rasulullah ﷺ ketika memilih duduk di majelis ilmu di Masjid Nabawi dibanding dengan halaqah dzikir dan tilawah. Meskipun halaqah dzikir dan tilawah juga memiliki keutamaan yang baik, Rasulullah lebih memilih halaqah ilmu karena beliau diutus sebagai seorang mu’allim (pengajar dan pendidik). Hal ini menjadi dasar kuat bahwa majelis ilmu memiliki kedudukan mulia dalam Islam.

Kajian pada kesempatan ini juga menjadi momentum pembukaan program halaqah kajian kitab turats, yakni pembelajaran kitab-kitab klasik karya ulama terdahulu. Beberapa kitab yang akan dikaji antara lain Riyadus Shalihin (Karya Imam An-Nawawi pada pekan pertama), At-Tahdzib fi Al-‘Aqidah (Syekh Muhammad Jibrin), Asy-Syamail Al-Muhammadiyah (Imam At-Tirmidzi), Madarijus Salikin (Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah), Fiqh Sunah Linnisa (Abu Malik). Pendekatan ini diharapkan mampu menumbuhkan tradisi ilmiah yang berciri khas dan melatih kemampuan bahasa Arab para santri.

Lebih lanjut, Dr. Hakimuddin menyoroti keteladanan Imam An-Nawawi sebagai figur ulama muda yang penuh semangat dan produktif. Lahir di Nawa, Suriah, pada tahun 631 Hijriah, Imam An-Nawawi dikenal gemar belajar sejak kecil. Ia menolak bermain dan lebih memilih membaca Al-Qur’an. Meski wafat pada usia muda, 45 tahun, karya-karyanya seperti Riyadus Shalihin, Arba’in An-Nawawiyah, dan Syarah Shahih Muslim tetap abadi dan dipelajari hingga kini.

“Kitab para ulama penuh barokah dan kelanggengan, terbukti dipelajari lintas zaman”, demikian Dr. Hakimuddin menjelaskan pentingnya kajian yang diselenggarakan di Ma’had ini berupa kajian kitab turats atau kitab klasik, dan Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq berusaha menonjolkan ciri khas kajian berbasis kitab ini, menjadi berbeda dari kajian tematik biasa, didalamnya kita dapat melatih kemampuan bahasa Arab, mengulangi kembali dalam memahami teks, pembiasaan kemampuan berbahasa arab dan memperkuat metodologi belajar ulama klasik.

Dalam kajian ini pemateri menekankan bahwa menuntut ilmu adalah ibadah agung dan jalan menuju surga, dan proses perjalanannya memerlukan kesungguhan, penjagaan diri dan kehati-hatian dari mengkonsumsi asupan-asupan yang tidak halal.

Lanjutnya dengan meneladani sosok Imam An-Nawawi — ulama muda yang wara’, tekun, dan produktif — para santri dan mahasiswa diharapkan dapat menumbuhkan semangat belajar yang ikhlas, disiplin, serta menjadikan kajian sebagai wasilah jalan memperoleh keberkahan dunia dan akhirat.