Dalam majelis ilmu yang hangat nan penuh khidmat di tengah suasana hujan nan lebat, Ustadz Dr. Farhan Dhoifur, Lc., M.A. memulai kajian perdana kitab Madarijus Salikin karya ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Kajian ini menjadi momentum penting bagi jamaah untuk mengenal lebih dekat sosok penulis, latar belakang keilmuan, serta keagungan isi kitab yang disebut sebagai salah satu karya monumental dalam khazanah Islam terdahulu.
Ustadz pemateri mengawali pembahasan dengan proses penyambungan batin Beliau kepada kharisma Sang penulis, seraya memanjatkan doa bagi Ibnu Qayyim. Kemudian Dr. Farhan Dhoifur, Lc., M.A. memaparkan bahwa mempelajari kitab ini bukan sekadar membaca teks, tetapi juga membangun hubungan penjiwaan dengan sang ulama agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah. Kitab Madarijus Salikin, yang terdiri dari tiga jilid tebal, akan dibahas secara bertahap dalam pertemuan bulanan, yang pada kesempatan ini akan dikaji setiap hari selasa pekan keempat.
Dalam kajian perdana ini, jamaah diperkenalkan dengan identitas lengkap Ibnu Qayyim Al-Jauziyah — nama aslinya adalah Muhammad bin Abi Bakar bin Ayyub bin Sa’d Az-Zar’i Ad-Dimasyqi, bergelar Syamsuddin dan berkunyah Abu Abdillah. Beliau merupakan ulama kelahiran Damaskus (Suriah) yang dikenal sebagai murid kesayangan Ibnu Taimiyah, tokoh besar yang juga digelari Syaikhul Islam. Kedekatan mereka bahkan berlanjut hingga Ibnu Qayyim menemani gurunya di penjara.
Selanjutnya pemateri menjelaskan pula bahwa Ibnu Qayyim bukan hanya cendekiawan fikih dan akidah, tetapi juga seorang penyair ulung. Salah satu karya luar biasanya adalah Al-Kafiyatus Syafiyah atau Nuniyyah Ibnu Qayyim, syair panjang berisi hampir 6.000 bait tentang tauhid. Kemampuannya menulis dalam bentuk nadham menjadi keistimewaan tersendiri dibandingkan banyak ulama lain pada zamannya.
Adapun Madarijus Salikin membahas perjalanan keagamaan seorang hamba menuju ridha Allah, melalui tahapan-tahapan yang bisa disebut pula sebagai maqamat — mulai dari tobat, ikhlas, zuhud, hingga mahabbah. Kitab ini, kata Beliau, mengajak pembacanya memahami agama dengan landasan wahyu, bukan semata rasio seperti yang diandalkan para filsuf.
Menutup kajian, Dr. Farhan Dhoifur, Lc., M.A. berpesan agar para jamaah mempersiapkan diri lahir dan batin dalam menapaki tangga-tangga spiritual yang dijelaskan dalam kitab ini. Dengan semangat tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), ia berharap kajian rutin tersebut menjadi wasilah meningkatnya kecintaan jamaah kepada ilmu dan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

