Sosok Alim yang Tersembunyi, Penulis Kitab Aqidah

Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar kajian rutin sebagai bagian dari program Kajian Kitab Turots yang membahas kitab-kitab klasik ulama. Dalam kesempatan kali ini, kajian perdana dalam pembahasan kitab Tahzīb Taḥṣīl al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah karya ulama terkemuka asal Arab Saudi, Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al-Jibrin. Kajian disampaikan oleh Ustadz Itsnaini Bambang Hasto Nugroho, Lc., dan dihadiri oleh masyarakat umum berikut tentunya para mahasantri ma’had serta mahasiswa dari berbagai unit civitas UMS.

Acara dimulai dengan pembacaan tilawah dan doa bersama yang menciptakan suasana khusyuk di masjid ma’had. Dalam mukadimahnya, Ustadz Itsnaini mengingatkan bahwa kehadiran dalam majelis ilmu adalah bentuk rahmat dari Allah yang sangat berharga. Ia menegaskan, tanpa pertolongan dan kasih sayang Allah, manusia akan termasuk golongan yang merugi sebagaimana diingatkan dalam surah Al-‘Asr.

Dalam kesempatan itu, pemateri kembali memperkenalkan struktur kajian turots di Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terdiri atas lima kitab utama. Selain kitab Tahzīb Taḥṣīl al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah, turut dikaji pula Riyadhus Shalihin oleh Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A., Asy-Syamā’il al-Muḥammadiyyah oleh Dr. Muhammad Ilyas, Lc., M.Pd., Madarijus Salikin oleh Dr. Farhan Dhoifur, Lc., M.A., serta Fiqhun Nisa khusus untuk mahasiswi yang diasuh oleh Ustadzah Nur Sillaturohmah H., Lc., M.H. dan Ustadzah Ainul Millah Kaswan, Lc., M.H.I..

Pemateri Ustadz Itsnaini kemudian menjelaskan bahwa kitab Tahzīb Taḥṣīl al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah merupakan ringkasan dari karya asli Syaikh Al-Jibrin yang ditulis dengan tujuan memudahkan umat memahami prinsip-prinsip akidah Islam secara sederhana dan jelas. Kitab ini diterbitkan oleh Dar As-Sumai‘i, Riyadh, dan banyak digunakan di lembaga pendidikan Islam di Timur Tengah.

Dalam kajian tersebut juga dipaparkan biografi singkat penulis kitab, Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al-Jibrin, seorang ulama ahli fikih dan perbandingan madzhab yang dikenal zuhud serta berdedikasi tinggi dalam dakwah. Dan ternyata Beliau diketahui juga sebagai seorang alim yang tersembunyi, tidak diketahui khalayak luas kecuali setelah beberapa waktu wafatnya. Semasa hidupnya, Beliau mendirikan 75 masjid dan menanggung kehidupan 115 dai, mendirikan madrasah di selatan Ethiopia, meluluskan lebih dari 133 santri yang kini menjadi dai dan imam, membangun 144 sumur air di berbagai daerah dan juga membiayai jamaah untuk menunaikan ibadah haji, membiayai para da’i di daerah non muslim sehingga kaumnya mendapat hidayah Islam mencapai 11 ribu orang dan kebaikan lainnya semacam penerbitan kitab-kitab agama dan segala projek-projek amal lainnya itu dengan tanpa  mempublikasikannya.

Mengakhiri kajian, Ustadz Itsnaini mengajak para santri untuk meneladani keikhlasan dan ketekunan para ulama terdahulu dalam menuntut ilmu. Ia berharap majelis ilmu semacam ini dapat menjadi wasilah memperkuat keimanan serta menjaga kemurnian akidah umat Islam.